Jakarta, pkbjember.id – Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, menyuarakan kekhawatirannya atas akuisisi 75% saham Tokopedia oleh TikTok Nusantara. Menurutnya, merger ini berpotensi melemahkan daya saing UMKM dan membuka jalan bagi praktik monopoli digital di sektor e-commerce Indonesia.
“Kalau sistem terus diarahkan ke produsen besar dengan harga murah, maka UMKM kita akan terpinggirkan. Mereka bisa mati pelan-pelan,” tegas politisi muda PKB yang akrab disapa Gus Rivqy, Kamis (19/6/2025) kepada pkbjember.id.
Gus Rivqy menyoroti ketimpangan algoritma dan aturan baru pasca penggabungan TikTok Shop dan Tokopedia yang merugikan penjual kecil. Banyak pelapak mengeluhkan sistem seller center yang rumit, penghapusan fitur lama seperti resi manual, hingga minimnya respons terhadap komplain pembeli.
“Ini bukan sekadar penggabungan, tapi pengambilalihan total. Penjual kecil dipaksa ikut sistem TikTok Shop yang tidak ramah UMKM,” katanya.
Rivqy juga meminta KPPU, Kementerian UMKM, Kemendag, dan Kominfo segera duduk bersama menyusun regulasi baru yang melindungi penjual kecil dan mencegah dominasi pasar oleh satu platform.
“Jangan biarkan pasar digital jadi milik segelintir raksasa. Harus adil, transparan, dan setara,” ujarnya.
Ia pun mendesak KPPU agar mengawasi potensi praktik predatory pricing, tying, dan bundling yang bisa menjurus ke monopoli. Rivqy memastikan Komisi VI DPR akan mengawal proses ini ketat.
“Kita tak bisa diam. Ekonomi digital harus berpihak pada rakyat, bukan pada korporasi besar saja,” tegasnya.
Reporter : Irwansyah GI
Editor : Miftahul Huda
