Oleh: Fuad Ahsan (Wakil Ketua DPRD jember/Kasatkorcab Banser Jember)
Harlah Gerakan Pemuda Ansor seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang refleksi: sejauh mana Ansor tetap relevan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat?
Tema “Bersatu, Berperan untuk Negeri” terasa sangat kontekstual hari ini. Indonesia sedang menghadapi tantangan serius,bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga kohesi sosial. Polarisasi masih terasa, ruang digital dipenuhi disinformasi, dan identitas kerap dijadikan alat untuk memecah belah.
Dalam situasi seperti ini, persatuan tidak bisa lagi dianggap otomatis ada. Ia harus dirawat.
Ansor memiliki posisi strategis dalam konteks tersebut. Sebagai organisasi kepemudaan berbasis nilai Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah Ansor sejak awal membawa semangat keseimbangan antara keagamaan dan kebangsaan. Ini menjadi modal penting di tengah menguatnya berbagai narasi ekstrem, baik yang eksklusif maupun yang terlalu bebas tanpa pijakan sosial.
Namun, berbicara persatuan saja tidak cukup.
Persatuan tanpa peran nyata hanya akan menjadi slogan. Tantangan hari ini menuntut aksi, bukan sekadar retorika. Di lapangan, Ansor sebenarnya telah menunjukkan peran tersebut. Kehadiran kader Ansor, termasuk Banser, kerap menjadi simbol ketegasan dalam menjaga ketertiban sekaligus penyejuk dalam merawat harmoni.
Tapi ke depan, peran ini perlu diperluas.Bukan hanya menjaga stabilitas, tetapi juga memberdayakan masyarakat. Era digital menghadirkan tantangan baru. Informasi menyebar cepat, tetapi tidak semuanya benar. Hoaks, ujaran kebencian, hingga propaganda ideologis menjadi konsumsi sehari-hari. Jika tidak diimbangi dengan literasi yang kuat, ruang digital bisa menjadi ancaman serius bagi persatuan.
Di titik ini, Ansor perlu naik level. Kader Ansor tidak cukup hanya aktif di dunia nyata, tetapi juga harus hadir di ruang digital. Mengisi media sosial dengan narasi positif, edukatif, dan menyejukkan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Selain itu, aspek ekonomi juga tidak bisa diabaikan. Ketimpangan ekonomi masih menjadi persoalan nyata di banyak daerah. Ansor punya peluang besar untuk mengambil peran sebagai penggerak ekonomi umat, terutama di level akar rumput.
Mendorong kewirausahaan muda, membangun jejaring usaha, hingga menciptakan ekosistem ekonomi berbasis komunitas bisa menjadi langkah konkret. Namun, semua itu tidak akan berjalan tanpa pembenahan internal. Ansor perlu terus bertransformasi. Organisasi kepemudaan tidak bisa lagi berjalan dengan cara-cara lama. Generasi muda hari ini membutuhkan ruang yang dinamis, terbuka, dan memberi peluang aktualisasi.
Jika Ansor ingin tetap relevan, maka modernisasi menjadi keharusan—baik dalam tata kelola, pola kaderisasi, maupun pemanfaatan teknologi. Di sisi lain, integritas kader juga menjadi kunci. Di tengah krisis kepercayaan terhadap berbagai institusi, Ansor harus tampil sebagai organisasi yang bisa dipercaya.
Keteladanan menjadi nilai yang tidak bisa ditawar. Bersatu, dalam konteks hari ini, bukan berarti menyeragamkan. Justru sebaliknya, ia adalah kemampuan untuk mengelola perbedaan menjadi kekuatan. Ansor harus mampu menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai kelompok, membuka ruang dialog, dan merawat kebersamaan.
Sementara itu, berperan berarti hadir secara nyata.
Ansor tidak boleh hanya berada di pinggir. Ia harus masuk ke ruang-ruang strategis: pendidikan, ekonomi, sosial, hingga digital. Peran ini menuntut keberanian untuk berubah sekaligus kesiapan untuk berkontribusi.
Harlah Ansor adalah momen yang tepat untuk menegaskan kembali arah tersebut.
Bahwa menjadi bagian dari Ansor bukan sekadar identitas organisasi, tetapi komitmen pengabdian. Komitmen untuk menjaga persatuan dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.
Pada akhirnya, ukuran sebuah organisasi bukan pada seberapa besar gaungnya, tetapi pada seberapa nyata dampaknya. Ansor punya sejarah panjang. Kini tantangannya adalah memastikan masa depan tetap berada dalam genggaman.
Dirgahayu Gerakan Pemuda Ansor. Bersatu bukan sekadar kata. Berperan bukan sekadar wacana. Keduanya adalah kerja nyata untuk negeri.
