25 Juni 2025, pkbjember.id
Oleh : Abd. Latif Azzam
(Kader PKB Jember, Jawa Timur)
Ada yang menarik dari sambutan Cak Imin dalam acara Konferensi Internasional Transformasi Pesantren yang dilaksanakan oleh DPP PKB di Hotel Sahid Jakarta tadi malam. Setidaknya Cak Imin menyampaikan empat hal yang melatarbelakangi PKB mengadakan acara tersebut yang selanjutnya ini menjadi PR kita bersama khususnya bagi kader PKB dalam mendudukkan pesantren di zaman yang susah kita tebak ini.
Kegagapan Pesantren
Hari ini kehidupan kita sangat dipengaruhi oleh tekhnologi informasi di media sosial. Siklus kehidupan kita sangat bergantung pada media sosial. Media sosial menjadi platform yang sangat terbuka. Ibarat rokok kita terlalu banyak mengkonsumsi nikotin. Kita terlanjur kecanduan terhadap media sosial yang semakin berkembang. Sampai ada yang menganggap hidup sehari tanpa makan lebih baik daripada hidup sehari tanpa HP dan listrik. Saya sempat minder ketika tahu kecanggihan platform ChatGPT dalam mensuplai kebutuhan tulisan yang kita inginkan. Semua bisa tersaji dengan lengkap dengan referensi yang akurat. Bukan tidak mungkin tantangan kedepan akan tumbuh beberapa platform media sosial yang menyajikan referensi kitab-kitab klasik di pesantren. Jika ini terjadi maka sanad keilmuan kita sedikit demi sedikit akan bergeser.
Ini yang dikhawatirkan oleh Cak Imin dengan istilah Algoritma tekhnologi media sosial. Dakwah Islamiyah tidak hanya ditentukan oleh figur kyai di pesantren. Tapi juga ditentukan oleh algoritma media sosial. Dan hari ini keadaan itu benar-benar terjadi. Ambil contoh saja di platform Instagram dan Tiktok. Menu yang disajikan ditentukan oleh keseringan kita menonton menu tersebut. Secara tidak langsung hal ini akan mempengaruhi pola pikir dan tindakan kita sehari-hari. Sehingga ini menjadi tantangan pesantren di masa yang akan datang. Kondisi pesantren hari ini mengalami kegagapan atas arus media sosial yang berkembang. Jika tidak segera diantisipasi bukan tidak mungkin nilai barokah dan karomah kyai di pesantren akan tergerus oleh algoritma media sosial yang dikonsumsi setiap hari.
Baca Juga : ICTP 2025: PKB Satukan Langkah Pesantren dan Dunia Industri untuk Masa Depan Santri
Mayoritas pesantren rata-rata melarang santrinya membawa HP dan teknologi lainnya. Tapi bicara pesantren itu tidak hanya unsur santri, disana ada pengurus, ada pengasuh, ada guru yang memiliki keinginan agar pesantrennya maju dan berkembang bahkan bisa bersaing di tingkat nasional dan luar negeri. Ini yang saya maksud tantangan pesantren yang tidak bisa dihindari. Pesantren hari ini ibarat pisau bermata dua, maju kena mundur kena. Jika ingin maju maka harus mengikuti zaman, jika tidak maka akan tenggelam oleh zaman. Jika pesantren bertahan dengan kondisi stagnan dan salaf tanpa mengikuti media sosial juga kurang baik bagi pesantren. Kita bisa lihat beberapa pesantren salaf yang menutup dirinya dari algoritma media sosial, Pesantren tersebut lama kelamaan akan ditelan arus dan sepi peminat.
Ambil contoh sederhana. Pesantren Sidogiri di Pasuruan yang dikenal dengan pesantren salaf. Walaupun salaf tapi pesantren Sidogiri mampu beradaptasi dengan zaman. Dia bikin majalah Sidogiri, dia aktif di media sosial, dia mendirikan BMT dan minimarket untuk kemandirian ekonomi pesantren. Hingga Pesantren Sidogiri mampu mensejajarkan Ijazah pesantren dengan lembaga formal dan diakui oleh pemerintah. Di banyak tempat ada pesantren salaf yang menutup diri dari perkembangan zaman. Kondisinya hari ini kita bisa lihat, semakin ditinggalkan dan susah untuk berkembang. Hal inilah yang disebut Cak Imin sebagai tantangan pesantren menghadapi algoritma tekhnologi dan media sosial.
Kemampuan Kompetisi
Mindset pesantren hari ini perlu ada perubahan dan inovasi. Ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh KH. Ma’ruf Amin bahwa pesantrenlah yang harus memiliki semangat Transformatif dan Inovatif. Semangat kompetisi jika dimiliki oleh pesantren maka pesantren akan jauh dari kata terbelakang. Kesejajaran pesantren dengan lembaga umum menjadi keharusan jika ingin pesantren memiliki kemampuan kompetisi yang baik.
Kompetisi ini tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi industri dan giat ekonomi lainnya pelan-pelan juga harus dihadapi oleh pesantren. Apakah bisa? Tentu tidak akan sulit jika pesantren meningkatkan kemampuan kompetisi dan inovasi. Sehingga kedepan pesantren tidak hanya menjadi solusi bagi problem keagamaan saja, pesantren tidak hanya cakap berbicara di forum bahstul masail, tetapi pesantren katakanlah mampu mengisi ruang industri ekonomi yang berdaya saing global. Ini yang dimaksud pesantren naik kelas menuju Indonesia emas. Kelasnya harus naik, kompetitornya harus naik, dan mindset serta perilakunya juga harus naik.
Harapan Terlalu Tinggi
Siapa yang tidak mengakui bahwa pesantren adalah solusi dari segala macam persoalan keummatan. Dawuh dari seorang kyai di pesantren berimplikasi kepada sebuah kebijakan. Pesantren menjadi lokomotif tidak hanya memproduksi santri yang berprestasi tapi juga permintaan dari masyarakat yang cukup beragam. Pesantren tidak hanya dijadikan lembaga pendidikan tetapi juga tempat berkeluh kesah. Akibatnya semua menaruh harapan kepada pesantren. Harapan yang terlalu tinggi belum diimbangi kemampuan dari pesantren karena pesantren juga memiliki keterbatasan. Istilahnya Supply dan Demand tidak seimbang. Saya pernah melihat secara langsung, ada salah satu pesantren besar di Madura yang kerap kali menjadi keluh kesah masyarakat dan menjadi sasaran saat tidak sesuai dengan harapan. Ada salah satu kelompok masyarakat ingin carok minta restu dari pengasuh pesantren. Ada yang melibatkan pesantren dalam kontestasi pemilihan kepala daerah. Sehingga pesantren menjadi sasaran atau korban politik dari perbedaan pilihan yang terjadi.
Salah satu yang merusak citra pesantren adalah berkembangnya pesantren busuk. Seperti yang disampaikan oleh Cak Imin. Pesantren ini hanya merusak nama baik pesantren yang luhur. Beberapa tahun terakhir kita mungkin sering mendengar ada banyak kasus yang terjadi di pesantren. Mulai dari pelecehan seksual, perundungan, kekerasan, hingga pemerkosaan. Akhirnya nama pesantren tercoreng. Orang awam enggan menaruh putra putrinya di pesantren. Pesantren seperti ini yang akan dirazia oleh Cak Imin. Kasus seperti ini terjadi karena tidak adanya kualifikasi pendirian pesantren. Orang dengan mudah walaupun tidak memiliki nasab kyai bisa mendirikan pesantren. Cukup punya modal untuk membangun gedung asrama, punya 5 santri, jadilah pesantren. Ini adalah PR kita bersama agar lebih cerdas memilih pesantren.
Langkah terakhir yang disampaikan Cak Imin adalah percepatan. Saya bisa membaca Cak Imin sangat ingin percepatan atas kenaikan kelas bagi pesantren segera terjadi. Cak Imin kelihatan sangat gregetan melihat kondisi pesantren hari ini. Masalah dan tantangan pesantren nyata ada di depan mata kita. Jika tidak segera dilakukan pembenahan maka pesantren akan ketinggalan banyak hal yang dihadapi bangsa ini. Konferensi Internasional Pesantren yang dilaksanakan DPP PKB hari ini diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi oleh pesantren. Harapan saya dan kita semua kegiatan tersebut tidak hanya acara seremonial saja, tapi bisa melahirkan produk bagi pesantren agar naik kelas menjadi pesantren yang lebih transformatif, inovatif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
